Kamis, 25 April 2013

KEPRIBADIAN YANG KREATIF


Oleh : Kepler Pasaribu SE,M.Pd

Karena setip orang itu adalah unik, maka salah satu keprihatinan psikologi adalah individu sebagai keseluruhan (total individual) dan perbedaan-perbedaan individual (Lawrence A. Pervin, 1984: 2). Menurut Larry A. H. dan Daniel J. Ziegler (1981: 1 – 2). Sejak tahun 1879 sains psikologi langsung perduli terhadap masalah pemahaman kepribadian manusia, dengan tujuan sebagai berikut : Pertama, tujuan fundamental dari studi tentang kepribadian adalah memberikan sumbangan secara signifikan terhadap pemahaman manusia dari kerangka sains psikologi. Kedua, untuk membantu bagaimana orang hidup lebih utuh dan memuaskan.
            Para teoretis kepribadian berusaha memahami hubungan yang kompleks di antara aspek-aspek perbedaan fungsi individu, yang mencakup aspek-aspek seperti belajar, persepsi, dan motivasi. Penelitian kepribadian sendiri bukan merupakan studi tentang persepsi, tetapi lebih merupakan studi tentang bagaimana individu-individu itu berbeda antara satu dengan yang lainnya dalam persepsi mereka, dan bagaimana perbedaanperbedaan ini terealisasi dengan fungsi keseluruhan mereka. Studi mengenai kepribadian bukan saja berfokus pada proses psikologi tertentu saja melainkan juga pada hubungan –hubungan dari proses perbedaan.
            Terdapat beberapa aspek fungsi manusia yang tidak merefleksikan dan mengekspresikan kepribadian seseorang. Lantas,  kalau begitu, bagaimana kita mendefenisikan kepribadian?  Personality”, sebuah kata di dalam bahasa inggris, berasal dari bahasa latin “persona” memiliki banyak makni. Dalam psikologi, makna-makna kepribadian  (personality)  tersebut tidak disepakati (Larry A. H. dan Daniel J. Ziegler, 1981: 6). Defenisi seseorang tentang kepribadian bergantung pada teori seseorang tentangnya (Hjelle dan Ziegler, 1981: 7).
            Carl Rogers memandang kepribadian sebagai diri, identitas yang terorganisasi, permanen, dan yang secara subjektif dipersepsi, yang berada jauh di dalam lubuk seluruh pengalaman hidup kita. Gordon Allport mendefenisikan kepribadian sebagai individu sebagaimana adanya ( anindividual really is) “sesuatu” yang internal yang memanda dan mengarahkan seluruh aktivitas manusia. Bagi Erik Erikson, hidup itu berproses dalam serangkaian krisis-krisis psikologi, dan kepribadian merupakan sebuah fungsi dari hasil-hasilnya. George Kelly memandang kepribadian sebagai cara unik individu dalam “membuat makna” (making sense) dari pengalaman-pengalaman hidup. Lain lagi Sigmund Freud. Dia menjelaskan bahwa struktur kepribadian terdiri dari    elemen, idego dan superego.
            Mengenai kepribadian juga, Lawrence A. Pervin (1984: 3) mengatakan sekarang, bagaimanapun, secara umum tidak ada sebuah defenisi kepribadian yang disepakati bersama”. Sebagian psikologi kepribadian menstudi aspek-aspek biokemik dan psikologis itu menggunakan metode-metode lebih kepada wilayah-wilayah investigasi ini. Para psikolog kepribadian yang lain melihat individu dan meneliti perilaku lahir (overt behavior) mereka. Sedangkan yang lain lagi mendefinisikan kepribadian sebagai karakteristik, seperti proses tak sadar (unconsiciuos processes). Yang harus dipacu dari perilaku dan tidak dapat diteliti secara langsung. Terakhir ada para psikolog kepribadian yang mendefinisikan kepribadian sebagai cara-cara individu berinteraksi dengan individu-individu yang lain atau sebagaimana peran yang dilakukan oleh mereka sendiri serta memfungsikannya di dalam masyarakat.
            Pervin mengajukan definisi kepribadian sebagai berikut “Personality represent those characteristics of the person or of people generally that count for constant pattern of behavior” (kepribadian mempresentasikan karakteristik seseorang atau orang-orang secara umum yang menerangkan pola-pola perilaku yang konsisten).
            Dengan demikian, dalam konteks ini, menurut Pervin dapat ditunjukkan beberapa hal: Pertama, konsep-konsep kepribadian harus didefinisikan dengan definisi yang mengizinkan para psikolog untuk menyetujui cara-cara melihat dan mengukur perilaku. Kedua, kepribadian dikarakteristik oleh regularitas-regularitas fungsi pribadi sebagaimana pula regularitas-regularitas yang sama dari orang ke orang. Ketiga,kepribadian mencakup baik fungsi seseorang yang lebi stabil ataupun aspek-aspek fungsi seseorang yang tidak berubah. Keempat, kepribadian mencakup kognisi (thought processes), afeksi-afeksi (emotions), dan juga perilaku lahir (overt behavior). Terakhir, dapat dicatat bahwa proses-proses ini terjadi dalam hubungan rangsangan dan situasi-situasi, sebagaimana diciptakan oleh lingkungan yang mengitari dan yang diciptakan oleh orang.
            Sehubungan dengan kepribadian ini, Booble Sommer dan Mark Falstein (psikosibernetika, 1995:24) mengatakan bahwa membuka kepribadian merupakan upaya untuk mengacu keberhasilan. Menurut Sommer dan Falstein, Maltz menegaskan bahwa apa yang disebut “kepribadian” pada dasarnya merupakan suatu manifestasi atau perwujudan luar dari citra diri. Dengan demikian, kepribadian yang sesungguhnya dari setiap orang adalah “kepribadian yang baik”, dan ini berarti bahwa orang bersangkutan telah “terbebas... Sehinnga protein kreatif sebenarnya sudah ada dalam dirinya.” Sebaliknya, Maltz menyamakan “kepribadian yang buruk” dengan kepribadian yang tertutup. Maltz lebih lanjut berpendapat bahwa sifat malu yang berlebihan, sikap permusuhan, dengan gejala-gejala ketertutupan lainnya merupakan akibat dari terlalu banyaknya umpan balik negatif yang terserap oleh rangsangan yang bersangkutan.
            Dalam psikologi meurut Supriadi (1994:54-56), salah satu aspek kreativitas juga adalah kepribadian (personality) dalam hal ini hanya akan dibahas persoalan kepribadian orang-orang kreatif. Menurut Supriadi, ciri-ciri kreativitas ini dapat dibedakan ke dalam ciri kognitif dan nonkognitif. Ke dalam ciri kognitif termasuk empat ciri berpikir kreatif yaitu orisinalitas, fleksibilitas, kelancaran, dan elaboritas. Ke dalam ciri nonkognitif dama pentingnya dengan ciri-ciri kognitif, karena tanpa di tunjang oleh kepribadian yang sesuai, kreativitas seseorang tidak dapat berkembang secara wajar. Supriadi juga menunjukkan pendapat Munandar (1977) yang mengemukakan tujuh ciri sikap, kepercayaan dan nilai-nilai yang melekat pada orang-orang yang kreatif, yaitu: terbuka terhadap pengalaman baru dan luar biasa, luwes dalam berpikir dan bertindak bebas dalam mengekspresikan diri, dapat mengapresiasikan fantasi, berminat pada kegiatan-kegiatan kreatif, percaya pada gagasan sendiri, dan mandiri. Sedangkan Bobby De Porter (Quantum Learning 1992: 292) ketika menyebutkan ciri-ciri orang kreatif-menulis”orang yang kreatif itu memiliki rasa ingin tahu (curious), eksperimental, berpetualang, memiliki rasa bermain (playfull), dan intuitif dan Anda memiliki potensim untuk menjadi orang kreatif lagi.”
            Supriadi sendiri setelah melakukan survei kepustakaan, menegaskan bahwa ia dapat mengidemtifikasi 24 ciri kepribadian kreatif yang ditemukan dalam berbagai studi: yaitu 1) terbuka terhadap pengalaman baru; 2) fleksibel perasaan; 3) bebas dalam menyatakan pendapat dan perasaan; 4) menghargai fantasi; 5) tertarik pada kegiatan-kegiatan kreatif; 6) mempunyai pendapat sendiri dan tidak terpengaruh oleh orang lain; 7) mempunyai ras ingin tahu yang besar; 8) toleran terhadap perbedaan pendapat dan situasi yang tidak pasti; 9) mengambil risiko yang diperhitungkan; 10) percaya diri dan mandiri; 11) memiliki tanggung jawab dan komitmen kepada petugas; 12) tekun dan tidak mudah bosan; 13) tidak kehabisan akal dalam memecah masalah; 14) kaya inisiatif; 15) peka terhadap situasi lingkungan; 16)  lebih berorientasi ke masa kini dan masa depan daripada masa lalu; 17) memiliki citra diri dan emosional yang stabil; 18) tertarik kepada hal-hal abstrak, kompleks, holistik dan mengandung teka-teki; 19) memiliki gagasan orisinal; 20) mempunyai minat yang luas; 21) menggunakan waktu yang luang untuk kegiatan yang bermanfaat dan konstruktif bagi pembangunan diri; 22) kritis terhadap pendapat orang lain; 23) sering mengajukan pertanyaan yang baik; dan 24) memiliki kesadaran etika moral dan estetika yang tinggi. Begitulah kepribadian orang-orang yang kreatif.
 
DAFTAR PUSTAKA
Riyanto, Yatim. 2010. “Paradigma Baru Pembelajaran”. Kencana Prenada Media Goup. 
      Jakarta.
Roestiyah Nk. 1998. Strategi Belajar Mengajar. Bina Aksara. Jakarta
Rusyan, A. Tabrani. 1992. Pendekatan dalam Keterampilan Proses Belajar Mengajar.   Bandung. Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibin. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta.Logos. Wacana Ilmu
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstuktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta. Anisius

Rabu, 13 Maret 2013

BAGAIMANAKAH CARANYA KITA MENGENAL BAKAT SESEORANG ?


Oleh : Kepler Pasaribu , SE. M.Pd



           Menurut sejarahnya usaha pengenalan bakat itu mula-mula terjadi pada bidang kerja (jabatan), tetapi kemudian juga dalam bidang pendidikan. Bahkan dewasa ini dalam bidang pendidikanlah usaha yang paling banyak dilakukan. Dalam praktiknya hampir semua ahli yang menyusun tes untuk mengungkap bakat bertolak dari dasar pikiran analisis faktor. Pendapat Guilford salah satu contoh dari pola pemikiran untuk untuk bakat seseorang (materi) yang ada pada individu, yang diperlukan untuk aktivitas apa saja; jelasnya, untuk setiap aktivitas diperlukan berfungsinya faktor-faktor tersebut. Pemberian nama terhadap berjenis-jenis bakat biasanya dilakukan berdasar atas dalam lapangan apa bakat tersebut berfungsi, seperti bakat matematika, bakat bahasa, bakat olahraga, dan sebagainya. Dengan demikian, maka macamnya bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan di mana seseorang individu hidup. Mungkin penamaan itu bersangkutan dengan bidang studi, mungkin pula dalam bidang kerja.

            Sebenarnya setiap bidang studi atau bidang kerja dibutuhkan berfungsinya lebih dari satu faktor saja. Bermacam-macam faktor mungkin diperlukan berfungsinya untuk suatu lapangan studi atau lapangan kerja tertentu. Suatu contoh misalnya bakat untuk belajar di Fakultas Teknik akan memerlukan berfungsinya faktor-faktor mengenai bilangan, ruang, berpikir abstrak, bahasa, mekanik, dan mungkin masih banyak lagi. Karena itu ada kecenderungan di antara para ahli sekarang untuk mendasarkan pengukuran bakar itu pada pendapat, bahwa pada setiap individu sebenarnya terdapat semua faktor-faktor yang diperlukan untuk berbagai macam lapangan, hanya dengan kombinasi, konstelasi, dan intensitas yang berbeda-beda. Karena itu biasanya yang dilakukan dalam diagnosa tentang bakat adalah membuat urutan (ranking) mengenai berbagai bakat pada setiap individu.

            Prosedur yang biasa ditempuh adalah sebagai berikut :
a.       Melakukan analisis jabatan (job-analysis) atau analisis lapangan studi untuk menemukan faktor-faktor    apa saja yang diperlukan supaya orang dapat berhasil dalam lapangan tersebut;
b.      Dari hasil analisis itu dibuat pencandraan jabatan (job description) atau pencandraan lapangan studi;
c.       Dari pencandraan jabatan atau pencandraan lapangan studi itu diketahui persyaratan apa yang harus dipenuhi supaya individu dapat lebih berhasil dalam lapangan tertentu;
d.      Dari persyaratan itu sebagai landasan disusun alat pengungkapnya (alat pengungkap bakat), yang biasanya berwujud tes.

            Dengan jalan pikiran seperti yang digambarkan di atas itulah pada umumnya tes bakat itu disusun. Sampai sekarang boleh dikata belum ada tes bakat yang cukup luas daerah pemakainya (seperti misalnya tes inteligensi); berbagai tes bakat yang telah ada seperti misalnya  FACT (Flanagan Aptitude Clasification Test) yang disusun oleh Flanagan, DAT (Diffrential Aptitude Test) yang disusun oleh Bennet, M – T test (Mathematical and Technical Test) yang disusun oleh Luningprak masih sangat terbatas daerah berlakunya. Hal ini disebabkan karena tes bakat sangat terikat kepada konteks kebudayaan di mana tes itu disusun, sedangkan macam-macamnya bakat juga terikat kepada konteks kebudayaan di mana klasifikasi bakat itu dibuat.

          Bagi kita bangsa Indonesia kiranya sangat mendesak untuk segera diciptakannya tes bakat itu, baik untuk keperluan pemilihan jabatan atau lapangan kerja, maupun untuk pemilihan arah studi.

DAFTAR  PUSTAKA

Anastasi, A. Diffrential Psyhologi, New York: MacMillan 1958
Flanagan,J. C.et al. Project Talent: The American High School Student. Final Report, 1964. Of Pittsburg, Corporative Research Project No. 635, United States Office of Education.
Guilford, J. P. Personality. New York; McGraw Hill, 1958.
Sumadi Suryabrata. Studi tentang validitas tes mathematic teknik di beberapa S.M.P di Kertosono dan Prambanan, Bulletin Psychology, 1971.1, 33 – 37.